Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 18 Januari 2014
KEB Di Mataku - Sepotong Cinta Dalam Kedudulan
Hai-hai emak semuaaa...akhirnya saya bisa nulis lagi di rumah saya ini. Ini jadi tulisan pertama saya di awal tahun yang baru aja lewat nyaris hampir sebulan. Dan benerannn...demi KEB saya bela-belain buang penyakit malas menulis saya yang cukup kronis akhir-akhir ini.
Saya mungkin bukan member setia, yang selalu berkabar dan menyapa emak semua di wallnya KEB. Saya juga boleh jadi adalah member termalas yang jaraangg bangeeet posting di blog pribadi. Dan saya juga mungkin member paling dudul yang selalu ketinggalan info kalo ga nyolek makmin sohib saya di japrian. Iyah, saya memang dudul dan super malas, mak *ngaku sejujur-jujurnya* Pokoknya ya, jauh beneeer profil saya ini untuk bisa dijadiin emak of the month sama para makmin, hihihi..yaeyalahhh... #dikeplak :))
Tapiiii... saya juga berani sumpah kalo saya punya cinta buat komunitas ini. Kalo ngga, ga mungkin saya bela-belain nulis di hari ultahnya KEB ini dongg, berpartispasi bersama emak-emak semua untuk posting bareng ditengah jatuhnya semangat menulis saya ke titik paling memprihatinkan. Walau postingnya mungkin juga paling buncit di detik-detik terakhir jelang berakhirnya tanggal 18 Januari 2014 .
Sedikit berfilosofi, kadang adakan ya mak, cinta yang terucap. Nah, mungkin kira-kira seperti itulah gambaran cinta saya pada komunitas keren ini. Saya mencintai KEB, walau mungkin ga keliatan, ga eksis seperti yang lain. KEB selalu ada di hati saya. Saya selalu ingin tahu perkembangan KEB setiap saat. Dan beruntung saya punya sohib makmin yang hebohnya minta ampunn kalo udah japrian. Dialah penyambung kabar berita saya, teman ngunti paling setia di bebeh. Teman begadang paling on fire setiap malamnya. Dari dialah saya bisa selalu update kabar KEB terkini.Thank's a lot to neng Icoel... nice to have u dear.. Peluuukkk :*
Walau amat sangat kecil kontribusi saya di KEB ini, sebisanya bila memungkinkan, saya berusaha membantu apa yang kiranya bisa saya bantu untuk majunya komunitas ini. Bilapun tidak dengan nilai materi, saya akan memberi masukan dan saran, sebatas yang saya mampu tentu saja.
Bukankah selalu banyak jalan menyatakan cinta? Dan inilah cara saya. Semoga diterima yaa mak. Maafkan bila kehadiran dan keaktifan saya di komunitas ini sekedar menggenapkan jumlah member ajah:). Tapi percayalah cinta saya bukan cinta palsu dan semoga saya terus diterima di sini.
Menjura pada semua emak hebat di komunitas ini :*
Proficiat KEB. Semoga terus menginspirasi banyak perempuan Indonesia.
*tembusan : para makmin semuanya. I lov u all :*
.
.
Sabtu, 21 Desember 2013
Berbagi Tak Harus Menunggu Kaya
Haloo semuaaa...akhirnya gegara ultahnya blog emak gaoel, saya yang amat sangat malas menulis ini, bisa mengupdate blog saya yang sepinya 11 12 sama kuburan *ucap syukur Alhamdulillah :)
Sebelumnya, selamat yaa buat mak Winda yang usia blognya udah di penghujung masa balita. Mendoakan, semoga blognya semakin terdepan, semakin kece, laris manis dirubung iklan, dan semua doa-doa terbaik yang bermotif ekonomi serta kesejahteraan kupersembahkan buatmu seorang pokoknya mak :))
Bukan karena merasa paling smart dan gaul saya niat banget ikutan lomba ini, walau saya harus menulisnya di injury time alias di detik-detik terakhir deadline *lapjidat* Walau juga harus saya akui, hadiah lomba ini lumayan bikin ngiler, namun saya berusaha kembali ke niat awal buat ikutan, yakni karena saya ingin membantu seorang teman dan ingin berbagi kisahnya pada anda semua yang membaca postingan ini *mencoba luruskan niat ;) Dengan satu harapan sederhana, mudah-mudahan apa yang saya bagi di sini bisa menginspirasi anda dan syukur bila lebih jauh ada diantara teman-teman yang bisa ikut berpartisipasi membantu, baik moril maupun materil.
**********
Anak adalah aset generasi bangsa. Di tangan merekalah estafet kehidupan dari generasi terdahulu akan diserahkan. Mendapat pendidikan yang layak adalah hak setiap anak. Namun banyak anak -anak yang tak beruntung. Mereka terlahir dalam keluarga tak mampu, hingga acapkali mereka diwarisi kemiskinan yang diturunkan oleh orang tua mereka. Dibutuhkan kesadaran orangtua untuk mendorong anaknya belajar lebih giat, hingga bisa membuka jalan untuk memutus rantai kemiskinan itu.
Namun jalan memutusnya tentu tak mudah. Pendidikan menjadi amat mahal bagi mereka yang tak mampu. Beberapa dari mereka hanya bisa sekolah bila biaya digratiskan. Kadang itupun masih sulit dijalani bila terkendala banyak hal. Misalnya jarak sekolah yang sangat jauh dari rumah. Seperti yang sering kita lihat pada sekolah di daerah terpencil.
Jangan dulu bicara bimbingan belajar tambahan. Sekolah yang utama saja kadang tak terjangkau bagi mereka. Padahal bila melihat berjejalnya muatan lokal dari kurikulum pendidikan negeri ini, tentu bagi sebagian anak, belajar di sekolah saja tak cukup membuatnya paham dan menguasai materi pelajaran. Diperlukan les tambahan yang mendukungnya. Itulah mengapa lembaga bimbingan belajar hadir menjamur, bak cendawan di musim hujan. Namun, lagi-lagi biaya yang mahal untuk mengikuti pelajaran tambahan di sebuah bimbel, membuat tempat ini hanya dipenuhi mereka yang mampu secara finansial. Sama sekali tak menyentuh mereka yang hidupnya kekurangan.
Berangkat dari keprihatinan inilah, seorang sahabat saya mendirikan rumah belajar bagi kaum dhuafa di lingkungan sekitar rumahnya. Tak banyak orang yang mau peduli bersusah payah merelakan sebagian waktunya untuk orang lain. Mereka orang-orang berhati mulia, demikian saya menyebutnya Diantara jumlah mereka yang sedikit, sahabat saya ini adalah satu diantaranya.
Adalah ibu Laily Kurniyati. Saya biasa memanggilnya ibu Leli. Seorang teman satu kampus dulu. Semula ia aktif mengajar TPA di mushola sekitar rumahnya. Mengajar baca tulis Al Qur’an. Jangan tanya bagaimana kehidupannya. Ia adalah sosok sederhana. Jauh dari kemewahan. Hanya berbekal ilmu dan semangat berbagi pada sesama ia bergerak untuk orang lain. Bahkan rumahnya pun masih mengontrak, ditengah-tengah sebuah kampung. Tapi kepeduliannya pada kaum papa sungguh patut diteladani.
Sosoknya menjadi begitu menginspirasi di tengah hidup yang serba diukur standar materi. Karena bila ada orang berkelebihan rizki dan peduli pada mereka yang kekurangan, tentu itu hal yang lumrah adanya. Namun bila ada orang yang hidupnya pas-pasan tapi bisa memberi dan peduli pada orang yang kekurangan tentu saja itu menjadi sesuatu yang sangat luar biasa.
![]() |
| Ibu Leli, sahabat saya pemilik rumah belajar dhuafa Smart 10 (dok. Leli) |
Seiring waktu, orang tua dari beberapa murid TPA-nya meminta tolong agar anaknya diajarkan pelajaran lain di luar pelajaran mengaji, mengingat nilai-nilai mereka yang jatuh di beberapa mata pelajaran. Khususnya matematika dan Bahasa Inggris.
Tergerak membantu, jadilah ia mengajar bahasa Inggris dan matematika bagi satu dua orang murid TPAnya. Tentu gratis tanpa bayaran sepeserpun. Ketika tahu ada anak yang mengikuti bimbel berhasil meningkat nilai-nilainya, orang tua yang lain pun mengikutsertakan anak-anaknya di bimbel gratis ini. Dari 2 orang, bertambah menjadi 5, dari 5 menjadi 10, sampai akhirnya ia kewalahan mengajar banyak anak seorang diri saja. Belum rumahnya yang sempit menampung anak-anak itu. Ia pun berpikir keras bagaimana caranya anak-anak ini bisa tetap belajar. Mencari jalan bagaimana ia bisa mendapat bantuan guru yang mau sukarela menyisihkan waktu. Namun ternyata jalan itu tak mudah. Tak sesimple bicaranya. Memanggil guru yang datang dari jauh, tentulah memerlukan biaya. Meski hanya mengganti ongkos jalan saja. Sudah pasti itu semua perlu dana. Lagi-lagi ujung-ujungnya ia terbentur soal materi.
Tak hilang akal, ia membuat proposal. Apalagi kalau bukan untuk mencari dana. Setelah proposal jadi, berikutnya ia sibuk browsing internet, mencari tahu, kemana gerangan ia harus membawa proposal itu agar terwujud cita-citanya membangun sebuah rumah belajar yang lebih nyaman bagi mereka kaum dhuafa.
Akhirnya, bertemulah ia dengan Lazis PLN. Sebuah lembaga zakat milik PLN yang menyalurkan dana infaq dan shadaqoh, serta bantuan-bantuan dana bagi program-program pemberdayaan masyarakat kecil. Bak gayung bersambut. Sedikit bisa bernafas lega. Setelah proposal masuk, diterima dan disetujui pihak Lazis, akhirnya disepakati dana Lazis ini turun 1.6 juta perbulan bagi kelangsungan rumah belajar yang dikelolanya. Uang sebesar itu ia gunakan untuk mengontrak rumah yang kebetulan letaknya persis di samping kontrakannya, membayar uang transport bagi guru-guru yang membantunya. Melengkapi sarana dan prasarana di rumah belajarnya. Meski kadang uang sebesar itu masih dirasa sangat minim, namun ia tak surut langkah. Tetap berjalan dengan segala keterbatasan.
Rumah belajar itu diberi nama SMART 10 (baca smart ten). Tentu bukan pesan sponsor bila rumah belajar ini dinamai SMART, juga tidak secara sengaja saya buat menjadi senada seirama dengan pendukung lomba ini :) Dinamai demikian, karena SMART bermakna cerdas dan angka 10 yang mengiringi kata SMART adalah lambang kesempurnaan. Filosofinya, rumah belajar ini dibangun dengan semangat ingin menyempurnakan ikhtiar mengentaskan kebodohan bagi mereka kaum dhuafa. Kereen yaa ;)
![]() |
| di kontrakan sederhana inilah kegiatan rumah belajar Smart 10 berjalan (dok. Leli) |
Kini rumah belajar SMART 10 mempunyai 70 murid yang dibagi dalam 3 kategori kelas. Kelas 1-3. Kelas 4-6. Dan SMP, kelas 7-9. Untuk jam belajar, dibuka kelas pagi, diperuntukkan bagi siswa yang bersekolah di siang hari, yaitu pukul 08.00 - 10.30. Dan kelas siang diperuntukkan bagi siswa yang bersekolah pagi hari, dimulai pukul 14.00-17.30. Berlangsung 3 hari, setiap Senin Rabu, Kamis. Selain kelas reguler, ada juga kelas tambahan yaitu kelas percakapan bahasa Inggris, setiap hari Minggu, pukul 09.00-11.30.
![]() |
| anak-anak dhuafa ini sedang berkegiatan di rumah belajar (dok. Leli) |
Sesekali diadakan juga acara outing melepas kejenuhan bagi siswa smart 10 ini. Tempat yang dipilih tempat terdekat, dengan biaya yang murah dan terjangkau seperti kebun binatang ragunan.
![]() |
| gembira dalam kegiatan outing (dok. Leli) |
Beberapa orang tua murid yang mampu, menyisihkan infaqnya setiap bulan bagi kelangsungan rumah belajar ini. Meski jumlahnya hanya sedikit, namun setidaknya ini bisa mensubsidi mereka yang gratis. Karena jumlah murid yang tak dikenakan biaya ini lebih banyak, mencapai 3/4 dari murid yang ada.
![]() |
| bimbingan itu juga menyentuh sisi spiritual mereka (dok. Leli) |
Tak terasa 5 tahun sudah SMART 10 berdiri. Sudah banyak murid-muridnya terbantu lulus dengan nilai memuaskan. Sangat berliku jalan mengelolanya. Kekurangan dana, kelelahan fisik, menjadi cerita tersendiri bagi seorang Leli. Namun diatas segalanya ia bersyukur masih bisa memberi ditengah keterbatasan. Tak ada kompensasi gaji besar. Tak ada fasilitas memadai. Mungkin hanya imbalan Tuhan yang dinantinya. Entahlah… Apapun itu, saya melihat sosoknya mampu menginspirasi kita untuk lebih peduli pada sesama.
Ternyata, tak perlu menunggu kaya untuk bisa memberi…
Ayo, tumbuhkan pedulimu kawan!
Langganan:
Postingan (Atom)







