Senin, 25 Februari 2013

Mengeja Takdir Tuhan Dalam Jejak Langkahmu

Abi dan Faiz ...menikmati subuh di pantai Carnaval, Ancol...
.(dibidik dari camera digital Nikon Coolpix S3000 tanpa edit)

Sekilas foto di atas nampak biasa saja. Dengan tehnik pengambilan yang juga sangat sederhana karena memang saya tak cukup menguasai ilmu fotografi. Walau tak bisa juga saya katakan sebagai hasil karya asal jepret. Karena saya membidik momen ini dengan sepenuh hati, meski tanpa tehnik mumpuni. Foto ini bukan sekedar mengilustrasikan siratan makna humanis ikatan hati seorang ayah dengan anaknya dalam sebuah gandengan tangan. Namun lebih dari itu, behind the scene foto ini, punya berjuta makna yang menjadi titik balik proses hidup saya dan abi menjadi insan yang lebih baik dan pandai bersyukur. Yang menyadarkan kami, bahwa Tuhan Maha Segalanya.

Kala setapak langkah adalah sesuatu yang luar biasa....

Bila berjalan adalah hal mudah bagi tumbuh kembang seorang anak pada umumnya, tidak begitu bagi Faiz, malaikat kecil saya.Untuk bisa melangkah, saya bersama abinya Faiz perlu berjuang keras mewujudkannya.Menghapus semua rasa putus asa yang menjadi kelemahan kami sebagai manusia. Setelah diagnosa epilepsi parsial yang dideritanya, membawa dokter pada sebuah vonis  bahwa Faiz akan lumpuh total di kursi roda sepanjang hidupnya. Vonis itu kami terima di usia Faiz yang bahkan belum genap sebulan. Masih bayi merah. Sungguh...vonis yang  saya rasakan pahit yang membuat dunia saya runtuh saat itu.Saya terpuruk.Mencoba mengeja takdir Tuhan dalam kesedihan. Ceritanya lengkapnya bisa disimak di sini

Hingga berulang kali menatap foto ini, berulang kali pula hati saya tak henti bertasbih akan kebesaranNya.  Ya, seperti mimpi rasanya bisa melihat si kecil saya melangkah walau tertatih di usianya yang genap 2.5 tahun saat itu. Membuat saya tersungkur dalam derai air mata pada sujud syukur yang panjang.

Dan kini masih ada satu lagi mimpi saya yang belum kunjung menjadi nyata, yakni bisa mendengar Faiz berkata-kata dan memanggil saya Ummi. Semoga keajaiban itu masih akan menghampiri. Walau entah kapan itu...

Kupersembahkan catatan kecil ini untuk Ibu Fauzan, Mamanya Olive, Papanya Cintya-Agas

Semoga bisa menambah rasa syukur ^^

Rectoverso, Hadirkan Rangkaian Kisah Cinta Tak Terucap

Ping! Sinyal getar sekaligus tanda merah berkedip-kedip pada layar BB saya, tanda sebuah pesan masuk menyapa.
"Eh, ada undangan nobar nih tanggal 15 Februari di XXI Plaza Senayan, kamu mau ikutan ga?" begitu bunyi pesan bbm seorang sahabat saya. Entah kenapa, sayapun langsung menjawab pesannya dengan antusias sambil bertanya,
"eh filmya Rectoverso bukan?" saya membalasnya.
Seketika dijawabnya,"Iyaa..". 


Wowww....rasanya saya mau koprol kegirangan mendengar infonya. Hmm...sungguh kebetulan yang menyenangkan. Tau ga kenapa? Karena saya memang niat banget mau nonton film ini saat peluncuran hari pertamanya tanggal 14 Februari 2013. Jauh-jauh hari review film ini sudah saya baca, hingga saya pantengi jadwal tayangnya. Itu karena saya sangat suka dengan karya-karya novelis Dewi Lestari. Buat saya, karya seorang Dee selalu asik untuk dinikmati. Jadi cukup membuat saya penasaran sekeren apa kira-kira karya novelnya yang difilmkan kali ini. Lebih dari itu, Rectoverso menjadi begitu istimewa bagi saya, karena ada cerita mengenai kisah seorang penyandang autisme, yang ternyata sukses membuat saya haru biru menyaksikannya. Melihat adegan abang yang autis dan bundanya yang penyabar itu, saya seperti melihat cermin diri saya dan si bungsu, yang adalah juga seorang penyandang autisme. Hikss...jilbab saya benar-benar basah oleh airmata.:'(

Itulah alasan mengapa saya begitu antusias saat para  blogger diundang untuk nobar bareng para sutradara film plus beberapa aktor dan aktris yang terlibat.

Senangnya lagi, penonton juga diberi kesempatan bertanya kepada sutradara dan pendukung film ini mengenai apa dan bagaimana film Rectoverso ini dibuat. Sayapun beruntung berkesempatan bertanya pada para sutradara film ini mengenai kesan dan kendala apa yang mereka alami dalam memproduksi film yang terdiri dari 5 cerita dan 5 sutradara berbeda ini. Pertanyaaan ini seakan menuntaskan rasa penasaran saya akan bagaimana karya yang diangkat dari novel Dee Lestari ini diangkat ke layar lebar. Apalagi ini merupakan debut perdana bagi kelima sutradara srikandi yang kebetulan kelima-limanya aktris yang memang sudah dikenal masyarakat. Mereka adalah, Marcella Zalianty menggarap Malaikat Juga Tahu, Happy Salma (Hanya Isyarat), Rachel Maryam (Firasat), Olga Lydia (Curhat buat Sahabat) dan Cathy Sharon (Cicak-cicak di Dinding).

para sutradara Rectoverso yang saya bidik dari kejauhan

Marcella, sebagai salah satu sutradara menjawab pertanyaan saya. Ia mengatakan karena film ini berkisah tentang lima cerita berbeda, hingga ia menganggap peran editor pada produksi film ini sebagai yang paling hebat karena mampu menjahit kisah demi kisah dengan begitu halus, hingga bisa merangkainya menjadi satu jalinan cerita yang apik dan mampu menampilkan benang merah dari 5 kisah berbeda itu, yakni tentang cinta yang tak terucap yang boleh jadi adalah kisah cinta yang sering dilakoni banyak orang.

Dan setelah menyaksikannya sendiri, ternyata Marcella benar, saya sangat suka dangan jalinan kelima kisah lepas ini. Semua didukung oleh pemilihan aktor yang mumpuni, setting tempat yang menarik serta soundtrack yang juga sangat indah. Wuihhh...satu kata aja, Perfect!

Dan untuk film tak ada kritik dari saya. Saya cukup puas menyaksikannya. Sangat menyentuh, hingga saat keluar bioskop, mata saya masih terasa sembab, karena sedihnya masih terbawa dalam ingatan saya.Kalau boleh saya merating, tanpa mengurangi kehebatan para sutradaranya, saya acung jempol pada akting abang yang diperankan Lukman Sardi dalam kisah Malaikat Juga Tahu. Numero Uno pokoknya!

Over all acara ini berlangsung menyenangkan. Hanya sedikit kritik, acara yang semula dijadwalkan dimulai  jam 7 malam, mulur cukup lama, hingga membuat kami para undangannya cukup jenuh menunggu. Dan sayangnya tak ada kesempatan untuk sekedar wawancara atau berfoto bersama sutradara dan pemain film ini, karena waktu yang sangat terbatas.Tapi saya sudah cukup senang, saat resensi saya tentang film ini terpilih masuk harian Kompas cetak edisi Rabu, 20 Februari 2013.

Resensi saya yang masuk kompas cetak edisi Rabu., 2 Feb 2013


Berfoto di depan banner Nobar Rectoverso Movie Mania 


Terimakasih saya pada mas Karel untuk undangannya :)







Senin, 07 Januari 2013

Count Down, Film Slasher Menegangkan Sarat Pesan Moral

http://www.blitzmegaplex.com/en/index.php


Pekan lalu, tepatnya sehari menjelang tahun baru, saya berkesempatan ikut nobar di Blitz Megaplex Grand Indonesia, yang di gagas Babeh Helmi bersama teman-teman dari Kompasiana. Ini kali pertama saya menonton film Thailand. Sejujurnya saya tak terlalu suka film-film dari Asia, semisal film Korea yang digilai banyak sahabat-sahabat saya itu. Entah kenapa saya agak-agak alergi sama yang sipit-sipit, hihihi....tapi saat melihat trailer film ini, saya kok tertarik, karena genre filmnya jauh dari melow ala film Korea yang bikin ngantuk :) Film ini bergenre slasher yang sarat adegan-adegan ala psikopat yang menegangkan.

Film berkisah tentang 3 teenager asal Thailand yang kesemuanya adalah room mate di kota New York Amerika. Mereka adalah Jack (Pachara Chirathivat), Pam (Pataraya Kruesuwansiri) dan Bee (Jariporn Junkiet). Ketiganya tumbuh dalam pergaulan bebas yang tak terkontrol. Seks bebas dan narkoba menjadi keseharian mereka, karena mereka jauh dari pengawasan orang tua. 

Kisah ini berawal saat mereka bertiga ingin menghabiskan akhir tahun dengan berpesta ganja.Dan seorang bandar ganja bernama Jesus pun datang mengantar barang pesanan mereka.Disinilah ketegangan demi ketegangan film ini dimulai. Jesus yang awalnya ramah dan menyenangkan serta bercerita banyak hal yang menarik, ternyata seorang psikopat yang lumayan sadis yang akhirnya meneror dan menahan mereka dengan ancaman pembunuhan dalam kamar apartemen mereka. Tak pernah mereka bayangkan kalau akhirnya momen itu adalah momen yang tak mungkin mereka lupakan seumur hidup mereka. 

Adegan penuh kekerasan ala psikopatpun benar-benar mampu membuat saya menahan nafas. Salah satu adegan yang sempat membuat saya memicingkan mata adalah salah Pam dipatahkan satu demi satu jari tangannya, hingga patahannya berbunyi dan jarinya bengkok seketika....hiksss...adegan itu benar-benar sukses membuat saya nyengir menahan ngilu. Itu terjadi saat Jesus meminta mereka menyebut 5 ajaran dasar Budha suci yang hanya bisa diucapkan dengan benar oleh Bee seorang, sementara Jack dan Pam tak sukses mengucapnya. Hingga jadilah jari-jari Pam patah karenanya.Dan Jackpun terkecing-kencing dibuatnya :)

Yang menarik diseling adegan menegangkan, sang sutradara berhasil menghadirkan adegan-adegan kelucuan yang membuat penonton tersenyum. Keluguan dan kepolosan Jack dan Pam, membuat film ini tidak membosankan untuk diikuti  hingga akhir cerita, meski setting film terbatas hanya di sebuah kamar apartemen. Di tengah serigai kengiluan melihat adegan ala psikopat, kita bisa tertawa menyaksikan betapa manusia bisa begitu bodoh ditengah ketakutan.Mungkin itu pula yang akan terjadi, bila kita mengalami hal yang sama. 

Walau penuh adegan kekerasan, film ini sarat pesan moral yang baik bagi siapapun yang menontonnya. Bahwa pada detik-detik terakhir hidup kita, saat kita merasa ada di ujung kematian, tentu yang kita ingat adalah segala gelimang dosa. Bila saja diberi Tuhan kesempatan hidup kedua, akan begitu banyak pesan dan permintaan maaf kita kepada orang-orang terdekat, tak ubahnya pengakuan dosa.Anda akan lihat bagaimana kemudian ketiga remaja ini menuturkan segala kealpaan selama hidup mereka, dan itu semua terucap dibawah tekanan dan todongan senjata seorang psikopat. 

Lalu bagaimanakah mereka mengakhiri semuanya? Siapa sebenarnya Jesus? Mengapa ia meneror dan berniat membunuh ketiganya? Penasaran? Anda bisa saksikan filmnya yang akan tayang serentak pada tanggal 9 Januari 2013 di bioskop kesayangan anda. 

Film ini sangat recomended untuk anda tonton. Tak hanya seru tapi juga sangat inspiratif. Pesan moral yang tersirat, sangat bisa menjadi tonggak resolusi untuk anda memulai hidup dengan lebih baik, mumpung masih di beri Tuhan kesempatan hidup.

Selamat menonton :)


*special thanks to Babeh Helmi untuk undangannya ;)

Sabtu, 15 Oktober 2011

Titipan Allah Nan Terindah

Mengapa saya menulis judul demikian? Mari simak sepenggal episode  hidup saya menjadi  ibu dari seorang anak dengan berjuta keistimewaan. Sebelum saya memiliki seorang anak yang sangat spesial ini, saya abai dengan kenyataan betapa menakjubkannya proses tumbuh kembang seorang anak. Saya tak pernah merasa ada yang istimewa dalam proses anak bisa merangkak, berjalan, berlari, berbicara. Saya berpikir itu adalah hal biasa yang bisa dilakukan umumnya seorang anak manusia. Nothing special. Hal alamiah. Anak saya bisa berjalan? bukankah anak lain juga begitu? bisa berlari? yang lainpun demikian. Bisa bicara? ahh...teman-temannya pun tak kalah cerewet mengoceh. Sesederhana itu saja pandangan saya dulu.
Dua anak saya lahir sangat sempurna. Si abang sebutan anak sulung saya bahkan di anugerahi wajah yang lucu dan menggemaskan. Hingga sejak kecil pose-posenya menarik minat teman yang bekerja di avertising untuk dijadikan model iklan. Si kakak, juga demikian, sehat, pintar,  selalu juara dikelasnya, pandai menulis. Kemampuan mereka berdua berkembang dengan pesatnya. Kebetulan lagi mereka anak-anak yang sangat penurut. Sehingga sepanjang ingatan saya, sangat tak terasa membesarkan mereka. Tahu-tahu mereka sudah remaja. Tahu-tahu mereka sudah pandai membaca. Tahu-tahu mereka sudah pandai menghafal Al Qur'an. Tanpa perlu saya ajari dengan susah payah. Begitulah Tuhan memberi banyak kelebihan pada abang dan kakak. 2 anak saya itu. Alhamdulillah...Segala puji hanya bagi Sang pemilik.

Inilah mereka...


131382564462716392
abang semasa kecil

13138257631853883065
abang saat ini 14 tahun



1313825908330318600
kakak dimasa kecil



13138259751218264119
kakak saat ini 10 tahun

Sampai kemudian saat usia kakak 4 tahun, Saya diberi lagi seorang anak sebagai amanah dariNya. Ia terlahir dengan rupa yang sama sempurna dengan abang dan kakaknya. Montok, spontan menangis saat lahir layaknya bayi sehat. Tak ada yang menyangka kemudian sederet vonis menghampirinya. Tak pernah saya bermimpi diberi amanah yang luar biasa ini.


1313781032131662901
inilah si bungsu, fisiknya terlihat montok dan segar

Anda pasti sering mendengar ucapan.."amit-amit jabang bayi". Ucapan yang umum sering disebut orang yang sedang hamil sambil mengelus perutnya, kala ia melihat dan mendengar hal-hal buruk di hadapannya, seperti saat mereka melihat orang cacat melintas dihadapan mereka. Berharap dengan berucap itu, ia akan dijauhi dari segala keburukan yang akan menimpa calon bayinya kelak.  Mungkin ini semacam harapan perlindungan.
Itulah salah satu tanda betapa manusia adalah mahluk penyuka kesempurnaan. Tak ingin diberi kekurangan oleh Yang Maha Kuasa. Demikian halnya dengan saya. Meski tak pernah sekalipun saya ucapkan kata-kata itu. Tentu kalau boleh memilih saya ingin di anugerahi anak-anak yang sehat walafiat. Sehat fisiknya. Cerdas otaknya. Dan segala label kesempurnaan lainnya.
Tapi tak ada yang mampu melawan takdir. Nyatanya  saya dititipiNya anak yang menurut kacamata umum "tak sempurna". Di usia belia, bahkan belum genap 1 bulan, saat ia masih bayi merah, bungsu saya di vonis akan lumpuh tak berdaya dikursi roda atau kalaupun berjalan butuh waktu lama dan usaha ekstra keras melatihnya. Terang saya merasa gamang saat itu. Luar biasa sedih. Berintrospeksi.  Gerangan apakah dosa saya hingga Tuhan menimpakan ini pada saya. Denial. Menyangkal. Tak terima akan ujian yang saya anggap sangat berat saat itu. Semua pertanyaan itulah yang menggantung dalam benak saya. Menjadi indikasi tabiat manusia saya yang emoh diberi kesulitan.
Perlu waktu lama untuk saya merenung menerima kenyataan yang saya anggap pahit saat itu. Mereka-reka apa kiranya hikmah Tuhan memilih saya. Seiring berjalan waktu, saya disadarkan akan banyak hal, terutama pada cara saya memandang rasa syukur. Sesuatu memang baru akan terasa nikmat ketika Allah mencabut sedikit nikmat itu.
Siapa mengira proses tumbuh kembang itu menjadi barang mahal bagi bungsu saya. Tahap demi tahapnya menjadi begitu saya nanti. Bilakah dia tengkurap, merangkak, duduk, dan berjalan, berbicara??  Semua begitu saya tunggu-tunggu. Bak menunggu bisul yang akan pecah. Penantian panjang yang kerap diiringi rasa nyeri.
Saya sampai perlu membeli matras, sekedar mengajarinya berguling, membolak balikkan badannya dari telentang, tengkurap. Untuk kemudian merangkak, duduk dan berjalan. Sesuatu yang sepertinya mudah dilakukan bayi pada umumnya. Itu berlangsung hampir setiap hari. Selain itu perlu pula bantuan tenaga terapis untuk  merangsang semua gerak motoriknya. Praktis waktu dan hari-hari saya habiskan bersamanya.
Bungsu saya sangat pasif, meski secara fisik terlihat montok, gempal dan menggemaskan. Di usia 6 bulan, saat anak lainnya sudah aktif berguling ia hanya bisa tergeletak terlentang. Sangat jarang tangis yang keluar dari mulutnya. Ia teramat anteng untuk ukuran seorang anak bayi. Sampai tetangga pun tak pernah mendengar tangis bayi dirumah saya. Sesuatu yang aneh tentunya.


13138255301820074332
sangat interest bermain air

Saya mengunjungi tempat terapi hampir setiap hari demi  membuatnya bisa bertumbuh. Bersama terapisnya, saya latih terus motoriknya, agar tahapan tumbuh kembang itu bisa dikejarnya. Alhasil, tak hanya fisiknya yang tergembleng, mental dan kesabaran sayapun ikut terasah karenanya.
Alhamdulillah..segala upaya saya membawa hasil, meski perlahan akhirnya ia benar-benar mampu berjalan diatas dua kakinya sendiri. Di usia hampir 2,5 tahun. Tanpa perlu bantuan kursi roda, seperti yang diprediksi dokter ketika ia baru sebulan hadir di dunia.  Subhanallah...saat itu tersungkur saya dalam tangis dan sujud syukur.
Karenanya, syukuran kecilpun saya gelar. Memotong kambing dan membaginya pada anak yatim. Mungkin jarang anda dengar ada orang potong kambing untuk  merayakan seorang anak bisa berjalan. Tapi ternyata bisa berjalan adalah karunia sangat berharga bagi si kecil saya. Perlu perjuangan mencapainya.


13137451582064266802
inilah ia kini...mampu berjalan bergandeng tangan bersama abinya...

Kini, berikutnya yang saya nanti adalah saat dia mampu berkata-kata, berbicara. Harapan itu demikian menggunung,  hingga kerap terbawa dalam mimpi saya. Sungguh saya sangat ingin mendengar ia bisa memanggil saya ibu.
Itulah mengapa kini saya begitu takjub setiap kali melihat seorang anak usia 2  tahun sudah pandai berceloteh. Dalam hati saya bertasbih, Subhanallah...mengagumkan sekali. Boleh jadi anda mungkin berpikir saya berlebihan. Tapi percayalah, perasaan itu datang kala saya kehilangan nikmat Allah yang satu ini. Ya, ternyata proses berbicara itu tak mudah bagi sebagian anak. Utamanya bagi anak berkebutuhan khusus. Jangankan merangkai kata, mengucap sepatah saja perlu berjuang berbulan bahkan bertahun lamanya untuk melatihnya. Sekedar gambaran, anak saya sudah mengikuti terapi bicara sejak usia 1.5 tahun. Kini usianya hampir 6.5 tahun. Berarti 5 tahun sudah penantian saya. Namun belum sepatah katapun mampu dia ucapkan. Hingga saat ini, kamipun hanya bicara dengan bahasa tubuh. Perjuangan yang sungguh tak mudah. Dan Alhamdulillah, sampai detik ini saya masih tegar berdiri mengawalnya, semoga jiwa dan raga saya tak pernah lelah karenanya.

Semua yang saya ceritakan di atas, baru sekelumit dari panjangnya jalan yang harus saya tapaki untuk membuat bungsu saya mandiri mengejar ketertinggalannya. Baru sekedar bicara kemampuan fisiknya. Belum  menyentuh prilakunya yang butuh pengawalan ekstra ketat  itu. Prilaku yang kerap aneh dan sering tak mudah saya mengerti. Bisa dibayangkan. Sampai disini saja, sudah  tak terbilang nikmat Tuhan yang luar biasa itu. Sungguh pada dirinya,  saya temukan kebesaranNya.

Saya percaya, sebenarnya mudah saja bagi Allah membuatnya bisa berbicara, namun nampaknya Allah begitu sayang pada saya. UjianNya membuat saya merasa terus dibelai oleh cintaNya. Menundukkan  kesombongan atas ego saya. Mengajarkan saya begitu banyak hikmah.

Sesungguhnya di atas langit masih ada langit. Pepatah ini  mengajarkan kita, bahwa kita tak pernah malang sendiri. Boleh jadi diluar sana masih banyak berjuta anak lain yang tak seberuntung anak saya. Atau boleh jadi juga anak yang anda miliki lebih beruntung dari anak saya. Tengoklah selalu kebawah, agar selalu ingat untuk bersyukur.

Akhirnya kini...sepenuhnya saya bisa mengerti mengapa Tuhan mengamanahi saya merawat malaikat kecil ini. Karena hadirnyalah saya bisa memaknai setiap jengkal karuniaNya. Mengasah kesabaran saya yang selama ini terasa tumpul. Membuat jiwa saya semakin kaya dan bijaksana.

He might not speak, but his feeling is so clear. Behind the disability, he is the real motivator...

Karenanya tetaplah bersyukur atas sekecil apapun nikmatNya...

Semoga coretan kecil  ini berhikmah bagi anda...

Minggu, 11 September 2011

Ada cinta dalam diammu


Aku ibu dari seorang anak autistic. Anak spesial begitu orang sering menyebutnya.  Hingga usianya 6 tahun, ia belum mampu mengucap sepatah katapun. Tak kurang, sudah bertahun terapi bicara dijalani, namun belum juga ia mampu melakukannya. Sepertinya Allah punya rencana lain bagiku.  Memang belum sepenuhnya aku bisa melihat hikmahNya.  Selain satu yang pasti, seiring waktu berjalan, kesabaranku kian hari kian terasah dalam merawatnya.
Keterbatasannya berkomunikasi, seringkali membuatku kesulitan membuatnya mandiri. Menjelaskan konsep-konsep sederhana. Ia bicara dengan bahasanya sendiri. Bahasa yang khas. Bila menginginkan sesuatu, ia menarik tangan siapapun yang ada didekatnya, kemudian menunjukkan hal yang ditujunya.
Yang paling menyedihkan, dia sangat abai pada keberadaanku.  Seolah tak peduli bahwa aku adalah ibunya. Dunianya sungguh penuh misteri. Dunia yang sulit kuselami. Kadang tiba-tiba ia menangis tersedu tanpa sebab yang jelas, kali lain ia tertawa berderai, juga tanpa sebab yang tak kumengerti.
Hingga, suatu saat,  kala sedang asyik bermain, ia menghampiriku.  Saat itu aku sedang tenggelam didepan laptopku. Ia memegang kepalaku, memaksaku untuk mengalihkan perhatian padanya, beberapa saat dia menatap mataku,  seolah ingin berkata, ummi...coba lihat aku,  sejurus kemudian ia menciumku. Sejenak aku terpana. Momen itu memang hanya sekejap. Hanya dalam hitungan detik. Namun bagiku,  sungguh suatu keajaiban. Tak pernah kuduga. Sesuatu yang sebelumnya hanya menjadi mimpi bagiku. Yang mampu membuatku menangis bahagia. Dan Allahpun menunjukkan kuasaNya. Tak ada yang mustahil bagiNya, bila Ia berkehendak
Ya, kami memang hanya bicara dengan bahasa tubuh. Namun aku tahu pasti, ada cinta dalam diamnya. Ternyata ditengah sikap tak pedulinya,  tersimpan rasa sayangnya padaku. Tak terlukiskan. Berjuta syukurku. Terima kasih ya Allah...untuk momen indahMu...Bagai cindera bagi penantian panjangku...

bermimpilah...kelak Tuhan mewujudkannya untukmu....

Kali ini aku ingin berkisah tentang kekuatan mimpi dan cita-cita.The power of dream. Rasanya kalimat itu sangat tepat untuk memulai kisahku.
Aku tiga bersaudara. Semua perempuan. The Gurdi's sisters begitu kami menyebutnya. Ya.. karena Gurdi adalah nama ayah kami. Aku yang tertua. Adik pertamaku bernama Amalinda Gurdi. Biasa ku panggil dengan Linda. Usiaku dan Linda hanya terpaut setahun 5 hari. Adik bungsuku bernama Annisa Gurdi. Kami memanggilnya Nisa. Jarak usia Nisa dengan aku dan Linda terpaut lumyan jauh, 9 tahun.  Tak heran, karena aku dan Linda lama berdua saja selama 9 tahun, ini membuat kami menjadi dekat. Ibu selalu memakaikan baju yang sama pada kami berdua. Mengingat bila berlainan, pastilah akan menimbulkan pertengkaran karena rasa iri. Hingga kami bagai anak kembar. Nama kami pun bila dipanggil terdengar mirip , 2 L...Lia dan Linda.
Alkisah...dulu...ayah kami (almarhum) bekerja pada sebuah perusahaan otomotif terbesar negeri ini. Punya jabatan lumayan bagus. Hingga ia sering bepergian dinas ke luar negeri. Suatu saat beliau berkesempatan dinas berkeliling eropa.Dan salah satu negara yang beliau kunjungi adalah negara Inggris. Saat berjalan-jalan itulah ayahku sering mengirimi kami  surat dan post card yang menggambarkan ciri khas negara yang dikunjungi.
Seperti kali itu, ayah mengirim dua buah  post card. Satu untukku. Satu lagi untuk Linda adikku.  Karena beliau tahu betul, bila ia mengirim satu, pastilah kami akan bertengkar memperebutkannya. Saat itu, kami senang bukan kepalang  menerimanya. Post card yang unik. Karena tak berbentuk post card biasa seperti yang pernah kami lihat, yang monoton hanya berbentuk segi empat. Post card ini lonjong berbentuk potongan badan penjaga kerajaan Inggris lengkap dengan seragamnya. Gambar penjaga itu memakai topi bulu tinggi berwarna hitam, dengan seragam berwarna merah terang. Tampak sangat gagah wujudnya. Postcard yang menarik dan sangat lucu bagi anak kecil seusia kami.
Berceritalah ayahku dalam suratnya yang ditulis di post card itu, bahwa pasukan penjaga ini disebut juga  British Royal Guard. Pasukan penjaga istana kerajaan Inggris. Kata ayah, para penjaga itu kuat berdiri berjam-jam ketika menunaikan tugasnya menjaga pintu gerbang istana kerajaan Inggris. Tak ada lelahnya. Bahkan hebatnya dia bisa diam seperti patung, tak ada satupun yang mampu mengusiknya. Meskipun seekor lalat hinggap dihidungnya, hihi....Terkagum-kagum kami dibuatnya. Bertanya-tanya kok bisa begitu?? Sesuatu yang belum pernah kami lihat dan kami dengar tentu saja.
Cerita ayah dan post card-post card yang dikirimnya, sungguh berkesan bagi kami berdua. Bahkan aku dapat mengingatnya dengan baik hingga kini. Demikian pula adikku. Sampai aku berangan-angan bisa sampai kesana. Negara yang menurut ayahku sangat indah untuk dikunjungi. Aku rasa hal yang sama dirasakan pula oleh adikku. Entah seberapa dalam kesan yang dirasakannya saat itu, aku abai. Mengingat pada saat itu usia kami masih sama-sama kecil.
Waktu terus berjalan. Membawa kami pada takdir kami masing-masing. Diusia 23 tahun, aku menikah, tepat setahun setelah aku menyelesaikan S1-ku. Pernikahan yang boleh dibilang sangat cepat dibandingkan 2 adikku yang  lain. Setahun kemudian lahir anak pertamaku. Sementara saat itu, adikku Linda masih berkutat menyelesaikan S1-nya. Dia bersekolah di salah satu universitas negeri di Jogjakarta. Dan sibungsu Nisa, masih di sekolah menengah.
Sampai akhirnya, berkat ketekunannya, adikku Linda mendapat kesempatan menyelesaikan S2 disalah satu Universitas di Amsterdam. Kukatakan begitu, karena pastilah sebuah perjuangan yang tak mudah untuk mendapat kesempatan emas itu. Tak cukup hanya cerdas, tapi memerlukan kesabaran menembus beasiswa yang tentu saja diincar banyak orang. Ia memang harus melewati program scholarship untuk bisa mewujudkan cita-citanya. Karena bila harus mengeluarkan biaya sendiri, tentu adalah hal yang sulit kalau tidak bisa dikatakan mustahil. Mengingat ayahku pada saat itu  tak mampu membiayainya. Karena hidup kami memang tidaklah berlebihan secara finansial. Bolehlah dikatakan cukup dan sederhana.
Saat disanalah, disela-sela waktu kuliahnya, adikku berkesempatan mengunjungi negara-negara di benua Eropa, Inggris salah satunya. Seperti mimpi yang tersimpan indah dimasa kecil. Saat itu adikku mengirimkan anakku postcard bergambar penjaga kerajaan Inggris, persis sama seperti yang ayahku kirimkan saat  kami kecil.
Sesaat termenung ketika menerima kiriman postcard itu. Tiba-tiba semua ingatan masa kecilku kembali terbayang. Saat itu pula aku tersadar, betapa Linda mempunyai mimpi yang sama denganku. Bedanya, ia dianugerahi Tuhan kecerdasan dan ketekunan untuk mewujudkan mimpinya. Dalam post card yang juga bergambar Royal Guard itu, Linda bercerita pada anakku yang menjadi keponakan pertamanya, bahwa dulu ketika kecil, ia juga dikirimkan kartu pos yang sama oleh opa (sebutan kakek untuk ayahku). Dan sejak itu pulalah ia katakan, bahwa ia bercita-cita dan bermimpi untuk bisa sampai kesana. Ia juga mensupport, agar anakku belajar dengan rajin. Bercita-cita setinggi langit, agar kelak Tuhan mewujudkan mimpi dan cita-cita itu, persis seperti apa yang terjadi padanya.  Meski bila dipikirkan soal finansial hal itu jauh dari mungkin. Namun ternyata, usaha, ketekunan dan kegigihanlah yang bisa membawanya sampai kesana.
Teringat kisah dalam novel Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata. Ketika seorang ikal, melihat indahnya desa kecil bak surga di Endensor Inggris. Tempat yang semasa ia kecil, hanya ada dalam mimpi-mimpinya. Tempat yang rasanya mustahil ia kunjungi. Namun akhirnya bisa ia datangi, berkat Tuhan dan sejuta letupan semangat belajarnya yang tak pernah surut. Sesuatu yang tentu saja menakjubkan.
Benarlah kata-kata andrea dalam novelnya...Bermimpilah...karena Tuhan akan memeluk mimpimu...
Dan adikku Linda telah membuktikannya.....
.
*saat ini Linda sedang menyelesaikan program Doktornya di Universitas yang sama di Amsterdam, telah menikah dan punya seorang anak...sementara si bungsu Nisa bekerja sebagai copywriter pada salah satu agensi periklanan di Jogjakarta, sudah menikah, dan belum dikaruniai anak...