Sabtu, 21 Desember 2013

Berbagi Tak Harus Menunggu Kaya

Haloo semuaaa...akhirnya gegara ultahnya blog emak gaoel, saya yang amat sangat malas menulis ini, bisa mengupdate blog saya yang sepinya 11 12 sama kuburan *ucap syukur Alhamdulillah :)

Sebelumnya, selamat yaa buat mak Winda yang usia blognya udah di penghujung masa balita. Mendoakan, semoga blognya semakin terdepan, semakin kece, laris manis dirubung iklan, dan semua doa-doa terbaik yang bermotif ekonomi serta kesejahteraan kupersembahkan buatmu seorang pokoknya mak :))

Bukan karena merasa paling smart dan gaul saya niat banget ikutan lomba ini, walau saya harus menulisnya di injury time alias di detik-detik terakhir deadline *lapjidat* Walau juga harus saya akui, hadiah lomba ini lumayan bikin ngiler, namun saya berusaha kembali ke niat awal buat ikutan, yakni karena saya ingin membantu seorang teman dan ingin berbagi kisahnya pada anda semua yang membaca postingan ini *mencoba luruskan niat ;) Dengan satu harapan sederhana, mudah-mudahan apa yang saya bagi di sini bisa menginspirasi anda dan syukur bila lebih jauh ada diantara teman-teman yang bisa ikut berpartisipasi membantu, baik moril maupun materil.


                                                                **********
                                                    

Anak adalah aset generasi bangsa. Di tangan merekalah  estafet kehidupan dari generasi terdahulu akan diserahkan. Mendapat pendidikan yang layak adalah hak setiap anak. Namun banyak anak -anak yang tak beruntung. Mereka terlahir dalam keluarga tak mampu, hingga acapkali mereka  diwarisi kemiskinan yang diturunkan oleh orang tua mereka. Dibutuhkan kesadaran orangtua untuk mendorong anaknya belajar lebih giat, hingga bisa membuka jalan untuk  memutus rantai kemiskinan itu.

Namun jalan memutusnya tentu tak mudah. Pendidikan menjadi amat mahal bagi mereka yang tak mampu. Beberapa dari mereka hanya bisa sekolah bila biaya digratiskan. Kadang itupun masih sulit dijalani bila terkendala banyak hal. Misalnya jarak sekolah yang sangat jauh dari rumah. Seperti yang sering kita lihat pada sekolah di daerah terpencil.

Jangan dulu bicara bimbingan belajar  tambahan. Sekolah yang utama saja kadang tak terjangkau bagi mereka. Padahal bila melihat berjejalnya muatan lokal dari kurikulum pendidikan negeri ini, tentu bagi sebagian anak, belajar  di sekolah saja tak cukup membuatnya paham dan menguasai materi pelajaran. Diperlukan les tambahan yang mendukungnya. Itulah mengapa lembaga bimbingan belajar hadir menjamur, bak cendawan di musim hujan. Namun, lagi-lagi biaya yang mahal untuk mengikuti pelajaran tambahan di sebuah bimbel, membuat tempat ini hanya dipenuhi mereka yang mampu secara finansial. Sama sekali tak menyentuh mereka yang hidupnya kekurangan.

Berangkat dari keprihatinan inilah, seorang sahabat saya mendirikan rumah belajar bagi kaum dhuafa di lingkungan sekitar rumahnya. Tak banyak orang yang mau peduli bersusah payah merelakan  sebagian waktunya untuk orang lain. Mereka orang-orang berhati mulia, demikian saya menyebutnya Diantara jumlah mereka yang sedikit, sahabat saya ini adalah satu diantaranya.

Adalah ibu Laily Kurniyati. Saya biasa memanggilnya ibu Leli. Seorang teman satu kampus dulu. Semula ia aktif mengajar  TPA di mushola sekitar rumahnya. Mengajar baca tulis Al Qur’an. Jangan tanya bagaimana kehidupannya. Ia adalah sosok sederhana. Jauh dari kemewahan. Hanya berbekal ilmu dan semangat berbagi pada sesama ia bergerak untuk orang lain. Bahkan rumahnya pun masih mengontrak, ditengah-tengah sebuah kampung.  Tapi kepeduliannya pada kaum papa sungguh patut diteladani.


Sosoknya menjadi begitu menginspirasi di tengah hidup yang serba diukur standar materi. Karena bila ada orang berkelebihan rizki dan peduli pada mereka yang kekurangan, tentu itu hal yang lumrah adanya. Namun bila ada orang yang hidupnya pas-pasan tapi bisa memberi dan peduli pada orang yang kekurangan tentu saja itu menjadi sesuatu yang sangat luar biasa. 

Ibu Leli, sahabat saya pemilik rumah belajar dhuafa Smart 10 (dok. Leli)


Seiring waktu, orang tua dari beberapa murid  TPA-nya meminta tolong agar anaknya diajarkan pelajaran lain di luar pelajaran mengaji, mengingat nilai-nilai mereka yang jatuh di beberapa mata pelajaran. Khususnya matematika dan Bahasa Inggris.

Tergerak membantu, jadilah ia mengajar bahasa Inggris dan matematika bagi satu dua orang murid TPAnya. Tentu gratis tanpa bayaran sepeserpun. Ketika tahu ada anak yang mengikuti bimbel berhasil meningkat nilai-nilainya, orang tua yang lain pun mengikutsertakan anak-anaknya di bimbel gratis ini. Dari 2 orang, bertambah menjadi 5, dari 5 menjadi 10, sampai akhirnya ia kewalahan mengajar banyak anak seorang diri saja. Belum rumahnya yang sempit menampung anak-anak itu. Ia pun berpikir keras bagaimana caranya anak-anak ini bisa tetap belajar. Mencari jalan bagaimana ia bisa mendapat bantuan guru yang mau sukarela menyisihkan waktu. Namun ternyata jalan itu tak mudah. Tak sesimple bicaranya. Memanggil guru yang datang dari jauh, tentulah memerlukan biaya. Meski hanya mengganti ongkos jalan saja. Sudah pasti  itu semua perlu dana. Lagi-lagi ujung-ujungnya ia terbentur soal materi.

Tak hilang akal, ia membuat proposal. Apalagi kalau bukan untuk mencari dana. Setelah proposal jadi, berikutnya ia sibuk browsing internet, mencari tahu, kemana gerangan ia harus membawa proposal itu agar terwujud cita-citanya membangun sebuah rumah belajar yang lebih nyaman bagi mereka kaum dhuafa.

Akhirnya, bertemulah ia dengan Lazis PLN. Sebuah lembaga  zakat milik PLN yang menyalurkan dana infaq dan shadaqoh, serta bantuan-bantuan dana bagi program-program pemberdayaan masyarakat kecil. Bak gayung bersambut. Sedikit bisa bernafas lega. Setelah proposal masuk, diterima dan disetujui pihak Lazis, akhirnya disepakati dana Lazis ini turun 1.6 juta perbulan bagi kelangsungan rumah belajar yang dikelolanya. Uang sebesar itu ia gunakan untuk mengontrak rumah yang kebetulan letaknya persis di samping kontrakannya, membayar uang transport bagi guru-guru yang membantunya. Melengkapi sarana dan prasarana di rumah belajarnya. Meski kadang uang sebesar itu masih dirasa sangat minim, namun ia tak surut langkah. Tetap berjalan dengan segala keterbatasan.

Rumah belajar itu diberi nama SMART 10 (baca smart ten). Tentu bukan pesan sponsor bila rumah belajar ini dinamai SMART, juga tidak secara sengaja saya buat menjadi senada seirama dengan pendukung lomba ini :) Dinamai demikian, karena SMART bermakna cerdas dan angka 10 yang mengiringi kata SMART adalah lambang kesempurnaan. Filosofinya, rumah belajar ini dibangun dengan semangat  ingin menyempurnakan ikhtiar mengentaskan kebodohan bagi mereka kaum dhuafa. Kereen yaa ;)



di kontrakan  sederhana inilah kegiatan rumah belajar Smart 10 berjalan (dok. Leli)


Kini rumah belajar SMART 10 mempunyai 70 murid yang dibagi dalam 3 kategori kelas. Kelas 1-3. Kelas 4-6. Dan SMP, kelas 7-9. Untuk jam belajar, dibuka kelas pagi, diperuntukkan bagi siswa yang bersekolah di siang hari, yaitu pukul 08.00 - 10.30. Dan kelas siang diperuntukkan bagi siswa yang bersekolah pagi hari, dimulai pukul 14.00-17.30. Berlangsung 3 hari, setiap Senin Rabu, Kamis. Selain kelas reguler, ada juga kelas tambahan yaitu kelas percakapan bahasa Inggris, setiap hari Minggu,  pukul 09.00-11.30.

anak-anak dhuafa ini sedang berkegiatan di rumah belajar (dok. Leli)


Sesekali diadakan juga acara outing melepas kejenuhan bagi siswa smart 10 ini. Tempat yang dipilih tempat terdekat, dengan biaya yang murah dan terjangkau seperti kebun binatang ragunan.

gembira dalam kegiatan outing (dok. Leli)



Beberapa orang tua murid yang  mampu, menyisihkan infaqnya setiap bulan bagi kelangsungan rumah belajar ini. Meski jumlahnya hanya sedikit, namun setidaknya ini bisa mensubsidi mereka yang gratis.  Karena jumlah murid yang tak dikenakan biaya  ini lebih banyak, mencapai 3/4 dari murid yang ada.

bimbingan itu juga menyentuh sisi spiritual mereka (dok. Leli)



Tak terasa 5 tahun sudah SMART 10 berdiri.  Sudah banyak murid-muridnya terbantu lulus dengan nilai memuaskan. Sangat berliku jalan mengelolanya. Kekurangan dana, kelelahan fisik, menjadi cerita tersendiri bagi seorang Leli. Namun diatas segalanya ia bersyukur masih bisa memberi ditengah keterbatasan. Tak ada kompensasi gaji besar. Tak ada fasilitas memadai. Mungkin hanya imbalan Tuhan yang dinantinya. Entahlah… Apapun itu, saya melihat sosoknya mampu menginspirasi kita untuk lebih peduli pada sesama.

Ternyata, tak perlu menunggu kaya untuk bisa memberi…

Ayo, tumbuhkan pedulimu kawan!



Senin, 02 September 2013

Dear Son Dear Opa...

Postingan ini saya buat, terinspirasi dari para makmin KEB, yang kebetulan punya anak pertama perempuan semua. Saya yang punya anak sulung laki-laki juga punya cerita tak kalah indah dalam kenangan.

Anak sulung saya yang kini saya panggil abang, adalah seorang anak manis saat kecilnya dan tetap menyenangkan sampai besarnya seperti kini. Ia lahir dengan bobot lumayan mungil untuk ukuran seorang bayi pada umumnya, yakni hanya dengan berat badan 2,7kg dengan panjang badan 50cm.

Yang membahagiakan, bidan kelahirannya adalah neneknya sendiri (ibu saya), yang memang saat itu masih aktif menjadi perawat bidan di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta. Sungguh kebetulan yang menyenangkan ^^

Proses kelahirannya begitu dinanti-nanti oleh kami semua, terutama, opa dan neneknya. Mengingat ini adalah cucu pertama. Ia lahir  tepat tanggal 2 September 1997, berselisih hanya sehari dengan tanggal kelahiran Opa, 3 September.

Bicara soal tanggal, ada kejadian lucu sesaat sebelum proses kelahiran pertama saya ini. Sempat tercetus niatan opa untuk meminta saya menunda kelahiran, agar si abang bisa lahir berbarengan dengan tanggal kelahirannya keesokan harinya. Terngiang saya akan ucapan opa pada nenek yang saat itu memimpin proses kelahiran. "emang ga ada ya obat penahan mules, biar lahirnya bisa ditahan sampai besok, jadi nanti ulang tahunnya bisa bareng sama saya. kan bagus cucu pertama ulang tahunnya bisa bareng opanya." demikian tanya opa pada nenek.

huaaaa...saya semacam pengen meringis pilu gitu dengernya. Diantara rasa mules yang menjadi-jadi juga sakit yang tak tertahankan saat itu, ucapan polos opa berasa jadi aura negatif buat saya. "What?? Maksudnya diriku harus nunda mules sampe besok gitu? "Oh my God, plisss deh opaaaa...ini aja udah ga ketahan mules dan sakitnya, mosok harus ditunda sampai besok hanya biar bisa barengan ultah", begitu ceracau saya hanya dalam hati, karena rasa sakit membuat mulut saya terkunci untuk sekedar berceloteh *gigit bantal beneran pokoknya saya saat itu* :))

Syukur Alhamdulillah, setelah melalui proses induksi yang sakitnya bener-bener terasa selangit sebumi *sumpah ini ga lebay*  akhirnya abang lahir dengan selamat, sehat wal'afiat. Wajahnya manis menyerupai bayi perempuan, terlebih dengan bobot tubuh yang mungil, ia jadi nampak seperti bayi imut-imut dengan tulang hidung terlihat sangat menonjol karena begitu tirus wajahnya.


wajah lucu abang saat berusia 6 bulan
abi dan abang setelah besar

Ia kami namai Muhammad Adib Arkan. Adib Arkan bermakna yang beradab mulia. Sebagus-bagusnya doa tentulah itu yang menjadi harapan kami untuknya. Dan kemarin adalah hari ulang tahun abang ke16. Itu berarti hari ini adalah hari ulang tahun Opa. Hari yang seharusnya menjadi hari bahagia bagi kami setiap tahunnya, karena moment inilah yang menjadi momen kebersamaan kami, dimana abang dan opa merayakan ultah bersama berselang hanya sehari.

Namun hidup itu memang tak selalu berjalan semulus impian kita. Nyatanya Allah punya cerita lain. Opa sudah kembali padaNya sejak 9 tahun yang lalu. Tak lagi bisa kami lihat senyum keceriaan opa seperti yang biasa terlihat saat opa masih bersama kami.

saat indah kebersamaan kami, saya, adik bungsu, abang, adik tengah, opa, nenek.
Senyum opa inilah yang selalu kami rindu.

Kini saya, dan kami semua di sini mengenang Opa, usai syukuran ultah abang. Teriring doa, semoga opa tenang di sana, diberi Allah tempat  terbaik. Dan semoga abang bisa menjadi anak sholeh yang menyenangkan sekaligus cucu yang membanggakan bagi Opanya. Tentu seperti doa dan harapan beliau selama hidupnya. Aamiinn YRA.

May Allah bless u Opa, we miss u :*


In memoriam Opa Gurdi

Lahir 3 September 1945
Wafat, 16 Oktober 2004



Minggu, 14 Juli 2013

Merangkai Asa bagi Buah Hati Istimewa

Setiap orang dalam hidupnya pasti pernah mengalami turbulensi. Keadaan guncang akan sebuah peristiwa yang pada muaranya menjadi sebentuk pelecut semangat yang bisa menjadi titik balik kehidupan. Begitulah hukum alam Tuhan. Dimana didalamnya tak melulu berisi cerita suka cita namun juga diwarnai duka lara. Tak terkecuali seperti yang terjadi pada kehidupan saya.

Dipertengahan usia pernikahan saya, saya hidup tentram dan bahagia bersama seorang suami yang baik dan sepasang anak yang manis, lucu dan pintar. Si kakak dan abang. Begitu saya memanggilnya. Saya merasa hidup saya begitu sempurna memiliki mereka. Rasanya lengkap sudah status saya sebagai seorang perempuan, menjadi ibu bagi sepasang anak.
Saya bayangkan, setelah saya membesarkan mereka, pastilah hidup saya akan bahagia. Terlebih saya menikah di usia 23 tahun. Usia yang cukup muda untuk rata-rata kalangan pergaulan saya saat itu. Dan saya melahirkan anak pertama persis setahun kemudian. Sungguh menyenangkan. Sampai saya membayangkan, kelak hubungan saya dan anak-anak akan seperti kakak dan adik. Karena saat mereka tumbuh besar, kami bisa bagai sebaya.
Namun, saat anak kedua saya berusia 3 tahun, suami saya berkeinginan untuk kami mempunyai anak lagi. Ya, dia ingin memiliki anak ketiga. Itu karena suami saya pecinta anak-anak dan ia tumbuh dalam keluarga besar yang terbiasa dengan banyak saudara. Sejujurnya saya cemas dan khawatir keluar dari zona nyaman saya sebagai ibu yang merasa cukup dengan dua anak. Terbayang kemudian hari-hari saya akan direpotkan lagi dengan kehadiran seorang bayi. Tentu butuh waktu menerima keputusan suami yang saya anggap krusial saat itu.

Akhirnya setelah suami saya meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja, sayapun menyetujui keinginannya. Dengan berucap Bismillah saya lepas alat kontrasepsi, dan setahun kemudian, Alhamdulillah, lahirlah bayi ketiga kami, yang berjenis kelamin laki-laki. Bertambahlah status baru saya. Ibu 3 anak. Naluri ibu membuat saya excitedmenyambut kehadirannya. Luruh semua hal yang saya cemaskan saat saya melihat wajah lucunya. Ia lahir sehat dan sempurna.

Saat Bahagia dan Duka Datang Bersamaan

Sampai kemudian di usia sebulan, bayi saya divonis dokter terkena penyakit epilepsi parsial akibat kejang tremor yang menyerang kedua tangannya. Dokter memberi vonis berat bahwa tumbuh kembang bayi saya akan terlambat, bahkan bila kekambuhan kejang berulang bisa melumpuhkan raganya. Duniapun serasa runtuh seketika. Hal yang sungguh tak pernah terpikir oleh saya sebelumnya. Kebahagiaan itu sekejap saja berubah jadi petaka. Hati saya menjerit, menyangkal semua takdir Tuhan yang saya rasakan begitu tak adil saat itu.
Awal-awal vonis itu benar-benar memurukkan saya pada jurang keputusasaan. Sempat saya sesali segala keputusan saya dulu. Butuh waktu menerima semua itu. Namun, wajah innocent bayi saya, seperti menggedor nurani saya untuk bisa kembali tegak berdiri mengawal tumbuh kembangnya.

Perlahan saya bangkit. Saya datangi tempat terapi untuk membuat anak saya bisa bertumbuh mengejar ketertinggalannya. Saya dan suami bertekad mengupayakan apapun yang bisa membuat si bungsu hidup lebih baik. Alhasil kami tergembleng tak hanya secara moril namun juga materil. Meski kami sempat limbung, karena semua ini kami alami secara tak terduga. Siapa menyangka, kebahagiaan itu tercerabut sedemikian cepatnya.

Cerita belum usai sampai di sana. Di usia setahun lebih, vonis baru menghampiri bungsu saya. Karena gejala susulan dari brain damage akibat kejang yang menyerang, ia terpapar Autism Sindrom Disorder (ASD). Sejak itulah anak saya menyandang vonis sebagai anak berkebutuhan khusus. Anak istmewa, demikian orang menyebutnya. Terapi demi terapi harus terus berlanjut secara berkesinambungan. Semua membutuhkan biaya yang tak sedikit. Kesulitan finansialpun menjadi bagian dari jatuh bangun cerita perjalanan kami mengawalnya. Kami sadari kemudian satu kesalahan, bahwa hidup kami nyaris tanpa perencanaan, utamanya dalam masalah finansial. Membiarkan semua berjalan dan mengalir begitu saja. Padahal hidup tak selalu berjalan semulus harapan kita. Karenanya, perencanaan finansial bila tertimpa musibah tak terduga menjadi niscaya adanya.

Untuk diketahui, biaya terapi anak berkebutuhan khusus sangatlah mahal. Hal ini suka tidak suka memaksa kami mengatur secara ketat biaya kebutuhan hidup. Butuh tata ulang perencanaan finansial bagi ketiga anak kami. Agar kelangsungan pendidikan mereka bisa berkelanjutan dan kesehatan mereka bisa terjamin. Khusus bagi si bungsu, pos pengeluaran membengkak diluar kendali. Biaya terapinya hampir menyamai anak kuliahan. Benar-benar sesuatu yang tak pernah kami duga sebelumnya.

Kini, tak terasa 8 tahun sudah kami mengawal si bungsu. Perjuangan membesarkannya memang belum usai, karena hingga kini, bungsu saya belum juga bisa berbicara secara verbal, walau itu sekedar untuk mengucap namanya sendiri. Namun, ajaibnya, saya rasakan hidup saya kini menjadi lebih baik. Apa yang saya alami seperti menjadi titik balik (turning point) kehidupan saya untuk menjadi manusia yang lebih pandai memaknai syukur.

Selalu ada cara Tuhan mengajarkan kita. Memiliki si bungsu seperti memiliki sekolah kehidupan, tempat dimana kami mengasah kesabaran. Memiliki si bungsu juga membuat saya dan suami menjadi team yang solid. Menjadi orangtua yang lebih tangguh dari sebelumnya. Rangkaian puzzle kehidupan kami ini menumbuhkan kesadaran akan arti penting merencanakan masa depan bagi ketiga buah hati kami, terutama demi terwujudnya kemandirian si bungsu. Hingga detik ini, tak lelah saya rangkai asa itu. Dan saya sangat percaya, tak ada cerita yang tak berhikmah. Karena itulah saya berbagi. Semoga coretan kecil ini bisa menginspirasi Anda.

my happy family

Kamis, 23 Mei 2013

Pengalamanku Dikejar Seorang Lesbian Dari SD Sampai Kuliah

Dicintai seorang pria tentu sudah biasa. Tapi dicintai sesama jenis, sudah pasti itu hal yang luar biasa. Apalagi bila dia terus membuntuti hingga puluhan tahun lamanya.

Dia tetanggaku. Kusebut saja si F. Ia teman bermainku sejak kecil. Bahkan sejak aku masih di TK. Usianya 6 tahun lebih tua dariku. Tapi gelagat anehnya baru muncul ketika aku masuk SD. Namun, mengingat usiaku saat itu masih belia, aku pun tak terlalu paham dengan apa yang ia perbuat padaku. Yang kuingat, ia sering memelukku erat. Menciumku. Meski hanya mencium pipi. Kadang, bila aku menolak,  ada saja sejuta akalnya mengelabuiku agar dia bisa menciumku. Diajaknya aku main petak umpet. Ketika giliran aku jaga dan menutup wajahku, iapun tak membuang kesempatan untuk mencium pipiku. Dan kesempatan itupun didapatnya. Cerdik nian.

Terus begitu hingga aku masuk ke SMP. Selama 6 tahun di SD, aku tak terlalu mempermasalahkan sikap anehnya. Mungkin karena aku terbiasa diperlakukan begitu, jadi aku tak merasa ada yang salah. Atau mungkin juga karena keluguanku yang sama sekali belum mengerti semua keanehan itu.

Masuk SMP,  perlakuan manisnya padaku bertambah-tambah. Ia selalu mentraktirku makan. Sangat senang mengajakku pergi kemanapun aku mau. Apapun yang aku inginkan dia bisa memenuhinya. Sampai satu hari ia menulis surat cinta padaku. Wahhh…terbayangkah… aku menerima surat cinta pertama dari seorang wanita. Kertas suratnya wangi. Isinya berjuta kata cinta. Disuratnya, ia katakan tak bisa jauh dariku. Ia akan memenuhi apapun keinginanku. Saat menerima dan membacanya, perasaanku bercampur aduk. Antara senang sekaligus aneh. Ada perasaan bangga dicintai. Tapi kok dari seorang wanita. Dimasa SMP, tentu aku sudah lebih mengerti tentang hubungan laki-laki dan perempuan. Sudah masuk usia puber. Dan saat itu, aku sudah punya perasaan malu dicintai seorang wanita. Tapi aku tak bisa menutupi segala tentang F dari teman-temanku. Mau tau kenapa?? ya…karena setiap hari ia menjemputku saat pulang sekolah. Tadinya teman-temanku mengira ia adalah kakakku. Tapi sikapnya terlihat berbeda karena ia selalu menggandeng tanganku, akhirnya ini membuat teman-temanku paham siapa dia sesungguhnya.

Berkali aku melarangnya untuk tidak terus menjemputku, karena aku malu dengan olokan teman-teman. Tapi dia tetep ngeyel. Saat jam pulang sekolah, tetap saja dia setia nangkring didepan gerbang sekolah menungguku pulang. Lama-lama sungguh terasa menyebalkan.
Ibuku bukan tak tahu dengan kelakuannya. Ibu pernah membaca beberapa surat cinta darinya. Marah sudah pasti. Geram lebih tepatnya. Saat ada kesempatan bertemu dengan F, ibupun marah besar. Dan bicara sangat tegas pada F, sambil mengultimatum untuk segera menjauhiku. F pun ciut, hingga saat ibuku ada dirumah ia tak pernah berani menyambangiku. Sejak itu, ibu pun membatasiku untuk bermain dengan teman-teman dirumahku. Namun susahnya, ibuku saat itu adalah wanita bekerja. Pergi pagi, baru kembali sore hari. Hingga akupun  selalu ditinggal ibuku bersama pengasuh kami. Saat ibuku pergi bekerja, F pun leluasa masuk dan main kerumahku.

Masih seperti dulu. Saat berdua, ia selalu ingin menciumku. Aku selalu menolaknya. Karena aku mulai merasa risih. Kadang ia memaksa. Aku sering kasihan padanya, bila ia merayuku sedemikian rupa. Dari sekedar cium pipi, ia ingin mencium bibir. Sesekali terlihat begitu bernafsu. Aku terang menolaknya. Aku hanya membolehkan F mencium pipiku.Tak lebih dari itu. Meski bagaimanapun ia memaksaku. Saat itu aku makin merasakan ini sebagai hal yang tak lazim. Namun begitu, aku selalu bisa memaklumi keadaannya. Lagi-lagi karena terbiasa.
Saat aku naik kelas 2 SMP, kuketahui F menjadi pecandu narkoba. Waktu itu yang marak dipakai adalah pil ekstasi dan ganja. Kudapati ia sering mabuk. Dari mulutnya seringkali tercium bau minuman beralkohol. Awalnya ia memang perokok, bahkan sejak aku masih SD itu, dia sudah merokok. Gambaran sosok F memang sangat laki-laki. Badannya tinggi. Berdada sangat rata, meski tak terlalu kurus. Rambutnya pendek. Suaranya serak seperti suara laki-laki. Ya…seperti gambaran seorang lesbian pada umumnya.

Namun meski pemakai, F selalu melindungiku. Tak pernah sekalipun ia menawarkan dan mengajak aku memasuki dunianya. Yang ku tahu, ia sangat sayang padaku. Bahkan ia melarangku menyentuh benda haram itu. Kalau sedang mabuk, keberanian dan nyalinya bisa naik dua kali lipat. Kukatakan begitu,  karena pernah satu hari saat mabuk, ia dengan beraninya masuk ke rumahku saat ibuku ada dirumah. Karuan ibuku marah besar dan mengusirnya dari rumahku.

Ada lagi satu cerita yang tak kalah seram tentang prilaku F padaku. Suatu hari, dalam keadaan mabuk, F ingin menciumku, tapi aku menolaknya, kemudian dengan beraninya F mengancamku, ia katakan ia akan menyilet tangannya, kalau aku menolaknya. Saat itu, dengan berani pula aku menantangnya, kukatakan padanya, “coba aja silet  kalo kamu berani…!!”  Sejurus..aku lihat dikeluarkannya silet dari kantong celananya. Dan benar…iapun menyilet tangannya. Darahpun bercucuran…dengan cepat dijilatinya darah itu. Ya Tuhan…ia benar-benar melakukannya. Kupalingkan wajah sambil menjerit, memintanya untuk menyudahi aksi gilanya. Ngilu dan perih melihatnya. Namun yang mengherankan, nyaris tak kulihat wajah F meringis kesakitan. Dia begitu tenang, sampai akhirnya F katakan, kalau dia tak pernah main-main dengan ucapannya. Dengan berat hati kuikuti lagi kemauannya. Dan kejadian ini bukan sekali dua kali terjadi. Hingga ditangannya begitu banyak bekas parut siletan. Lama-lama akupun terbiasa melihatnya. Aku seperti kebal dengan segala kelakuannya. Kebal dengan semua ancamannya. Mungkin bagi orang lain hal ini mengerikan, tapi tidak lagi bagiku. Sampai dia tak mempan lagi mengancamku dengan cara itu. Bisa dibayangkan, diusia begitu belia aku mengalami pengalaman luar biasa ini.

Waktu berlalu, akupun masuk SMA. Dan ia tetap mengejarku. Tetap setia menjemputku pulang sekolah. Namun kali ini aku mulai berniat menjauhinya. Aku mulai jijik dengan segala kelakuannya. Aku mulai mengerti bahwa agama melarang hubungan aneh seperti itu. Akupun kerap kucing-kucingan dengannya, menghindar bertemu bila ia datang menjemputku. Tak hilang akal, bila ia menunggu digerbang, akupun menyelinap lewat jalan lain. Aku minta tolong temanku untuk membantuku menghindar dari F.

Surat cintanya masih berdatangan, meski enggan kuterima. Namun yang menyebalkan, ia kerap menitip surat itu lewat teman-temanku. Pernah suatu hari, F membuatku malu setengah mati. Saat F mau menitip surat untukku, ia menghampiri beberapa temanku, tapi karena teman-teman sudah kuwanti-wanti untuk tidak menerima apapun dari F,  teman-temanku pun menolak titipan F. Tak kurang akal,  F menitipkan suratnya pada salah seorang guruku. Sungguh edan. Masih kuingat jelas, waktu itu yang menerima guru akutansiku, yang dikenal genit dan cerewet. Dan terjadilah kejadian memalukan itu. Guruku membacakan surat cinta F didepan kelas. Kontan kelas menjadi riuh rendah dibuatnya. Semua memandangku. Sungguh lelucon yang tak lucu. Pengalaman yang tak mungkin dan tak pernah bisa kulupa. Perasaan malu dan terhina yang teramat sangat. Mungkin anda bisa membayangkannya. Kejadian itu cukup menjadi alasan mengapa akhirnya aku sangat membenci F. Akupun bersumpah takkan pernah lagi mendekat padanya.

Tapi F tak pernah surut. Dia tetap gigih mengejar cintaku. Meski seumur-umur aku bersamanya, tak pernah sekalipun kuucap kata cinta padanya. Betapapun F memaksa pengakuan itu. Bagaimana bisa kuucap sesuatu yang memang tak kurasakan sama sekali. Berkali-kali aku katakan pada F, aku tak mungkin bisa mencintainya, karena aku wanita normal. Sejujurnya, kalaupun aku masih bersamanya, tak lebih karena aku kasihan padanya. Kucoba memahami keberbedaannya. Tentu saja tak semua orang bisa mengerti F. Aku terlanjur dekat sejak kecil. Terlalu lama bersama. Dan lagi meski F punya seabrek kekurangan, tapi aku tahu pasti hatinya sangat baik. Utamanya padaku. Buktinya sekian tahun bersama, aku tak pernah tertular kenakalannya. Selain itu, aku yakin ada tangan Allah yang menjaga dan melindungiku.

Ketika masuk kuliah, akupun kost dekat kampus dan otomatis tak lagi tinggal bersama orang tua. Sedikit lega, karena aku bisa menghindar jauh dari F. Tapi siapa menyangka,  satu pagi, saat aku baru saja bangun tidur ditempat kost, tiba-tiba aku dikejutkan ketukan pintu. Ketika kubuka ternyata F sudah berdiri didepanku. Kaget tentu saja. Karena ternyata ia mencari-cari informasi dimana aku kost. Ya Allah…aku benar-benar hilang akal menghadapinya. Saat itu, kusambut dia dengan ketus dan marah-marah. Namun seperti biasa, ia tenang saja meski aku maki-maki sedemikian rupa. Tak pernah sedikitpun ia tersinggung dengan semua kemarahanku selama ini. Ia hadapi selalu kemarahanku dengan sabar dan santai. Entah dibuat dari apa hatinya. 

Lelah marah-marah, akhirnya akupun mencoba bicara baik-baik. Setengah menangis menahan perasaan, ku katakan padanya aku tak ingin lagi didekatinya. Aku ingin ia berhenti mengejarku. Berhenti mencintaiku. Kalaupun ia masih ingin berteman denganku, aku ingin dia berteman dengan cara wajar sebagaimana orang normal. Aku tak ingin dicintai lebih dari sekedar teman. Saat itu F mengiyakan. Ia katakan, aku adalah cinta pertamanya. Aku adalah mimpi-mimpinya. Meski cintanya tak pernah berbalas, itu tak bisa mematikan cintanya padaku. Mungkin ia kasihan juga melihatku. Hingga akhirnya ia berjanji takkan lagi mengejarku. Meski ia masih meminta aku menjadikannya sebagai teman. Ia sudah sangat senang dan berterimakasih bila masih dibolehkan melihatku sewaktu-waktu. Itu sudah cukup baginya.

Sampai kemudian beberapa tahun berlalu, aku tak lagi melihatnya. Kudengar rumah keluarganya pindah. Jadi ia tak lagi menjadi tetanggaku. Dan yang mengejutkan, aku mendengar kabar ia hamil, meski diluar nikah. Mungkin karena pergaulan bebasnya. Kuduga ia biseks. Bukan tak mungkin. Kenyataan membuktikan hal itu.

Sampai kini, tak pernah lagi kudengar kabar beritanya. Entah dimana dia kini. Akupun emoh mencari tahu. Selesai sudah. Buku lama telah kututup. Aku bersyukur Allah memberiku pengalaman berharga yang belum tentu dialami banyak orang. Biar kupetik saja hikmahnya.
Semoga Allah menunjuki jalan kebenaran pada sahabatku itu.  Semoga hidayah  itu menghampirinya.  Cerita tentangnya  selalu tersimpan dihatiku, tak mungkin bisa kulupa. Hingga kinipun sulit kupercaya, aku pernah melewati masa-masa  itu. Namun satu yang pasti, aku mengagumi  cinta dan kesetiaannya. 

Ah...andainya  dia laki-laki…

Kamis, 09 Mei 2013

Antara Saya, KEB dan Serunya Ngemsi Di Event Srikandi Blogger

Perhelatan besar Srikandi Blogger 2013 sudah usai.Namun, kesan manisnya masih tersimpan rapi di hati saya. Kalo ditanya gimana perasaan saya selama terlibat di event ini, jawabnya adalah nano nano. Jantung dipacu bekerja lebih keras karena cemas, deg-degan dengan aneka persiapan yang serba mepet. Meski akhirnya perasaan bahagia dan bersyukur lebih mendominasi saat perhelatannya usai. Fiuuhh...pengen mewek rasanya...saat saya bisa melihat 10 finalis plus 2 blogger inspiratif itu, akhirnya bisa berdiri di panggung mengenakan  selempang dan mahkota Srikandi Blogger, Sampai speechless saya saat harus membacakan satu persatu profil finalis. Benar-benar seperti mimpi menjadi nyata. Alhamdulillah ya Allah *sujud syukur*

Sedikit kilas balik, saya mengenal KEB atau yang familiar disebut emak blogger, secara tak sengaja. Ada teman yang menyeret saya masuk ke grup ini di facebook. Awal-awal masuk juga belum intens berinteraksi dengan para emak di sana. Secara sebenernya saya minder berat, karena saya termasuk si pemalas dalam urusan update blog pribadi, hingga jadilah aura blog privat saya sepi, dingin, seolah tak bernyawa, yaa...11 12 gitu deh sama rumah hantu, hihihi... Postingan yang masuk bisa diitung pake jari tangan aja (ga perlu nambah jari kaki) karena memang artikel saya masih sedikiiitt sekali, itupun sebagian besar migrasi dari artikel saya di blog keroyokan Kompasiana.Padahal rumah pribadi ini sudah saya bangun dari tahun 2011, hiksss...*jewer telinga sendiri :'(

Bersama KEB saat syuting zona komunitas detik TV


Tapi gapapa, biarlah terlambat dari pada ga sama sekali, paling tidak bergabungnya saya dengan KEB semoga bisa memicu saya untuk bangun dari penyakit malas. Karena seperti kita tahu, di KEB amat banyak penulis-penulis inspiratif dan produktif yang ga pernah mati gaya apalagi kehabisan ide dalam menulis. Dan hebatnya notabene hampir semuanya emak-emak seperti saya, yang juga masih direpotkan dengan krucil-krucil dan urusan rumah tangganya. Tapi jangan tanya semangatnya, saya aja sukses dibuat minder, hehehe...:)

Di setahun ultahnya, KEB menelurkan ide besar membuat event Srikandi Blogger 2013. Saya yang baru aja masuk  di grup ini tentu senang mendengarnya. Walau lagi-lagi saya harus mikir seribu kali untuk ikutan kompetisinya, mengingat blog pribadi saya yang sepi bak kuburan itu. Namun sungguh saya ga pernah menyangka kalo kemudian akhirnya takdir membawa saya menjadi salah satu panitia perhelatan akbar ini. Sungguh inilah takdir terkeren dalam hidup saya, karena saya bisa ada di jajaran makpan yang ikut repot menghelat event perdana KEB ini. Woww...Siapalah saya ini? Bahkan sayapun belum mengenal semua jajaran makmin dan makpan lainnya kecuali makpon Mira Sahid dan beberapa dari mereka. Sebut saja para emak yang hebat seperti mak Indah Juli, mak Irma, mak Wiek, mak Waya, mak Aryani, mak Sary, mak Lusi, mak Carolina Ratri. Nama para emak ini masih asing bagi saya.Ihh...kuper banget ya saya *lap jidat*

Rasa minder kembali hadir, saat makpuh Indah Juli dalam rapat perdana menyebut-nyebut MC acara yang belio ga tau kalo sayalah orangnya, padahal saya duduk manis sejajar beliau, hihihi...resiko blogger ga ngetop yaa gitu deh, harap maklum.Tapi gapapa, lagi-lagi saya melecut diri saya sendiri untuk proaktif mendekat dan mengenalkan diri pada emak-emak hebat ini. Dan Alhamdulillah, pada rapat-rapat berikutnya saya mulai mengenal lebih dekat para emak, dan bisa menyapa dengan akrab.Kebersamaanpun mulai saya rasakan.

Selanjutnya hari-hari penuh kecemasan dan ketegangan jelang event mulai saya rasakan. Bukan semata masalah persiapan gelaran eventnya, tapi karena saya di daulat untuk ngemsi di event akbar ini. Masalahnya juga tak sampai di persoalan akbar saja, namun ini juga event perdana bagi KEB. Event krusial yang akan menentukan harumnya nama KEB ke depan. Hingga beban untuk sukses memandu acara benar-benar membuat saya mendadak sakit kepala jelang event. Ini semua karena ide gila mak Sumarti Saelan yang menggaransi nama saya duduk di kandidat MC. Duhh...emang deh emak satu ini, hobinya jorokin orang *pengen jitak* :p

Saya dirundung cemas dengan banyak pertanyaan menghantui benak. Bisakah saya? Apa mampu menjawab tantangan dan tanggung jawab yang dibebankan pada pundak saya? Secara sebelumnya saya minim (baca: nihil) pengalaman ngemsi. Paling banter saya bicara di depan umum hanya untuk keperluan presentasi di komunitas saya terdahulu yang bergerak di bidang penyuluhan internet sehat. Selebihnya, jam terbang saya nol untuk urusan ngemsi. Jadi kebayang dong betapa panas dinginnya saya jelang event ini. Saya harus punya misi besar membuat acara ini sukses saya pandu. Jangan sampai kerja saya mengecewakan para makpan dan makmin serta sponsor yang sudah susah payah menghelatnya. Waktupun jadi terasa lambat berjalan. Tanggal 28 April, saya lingkari pada almanak saya. Dan saya ingin bersegara tanggal itu cepat berlalu.

Tantangan pertama untuk tugas ngemsi ini adalah membuat script MC. Nah lho..bagian ini juga bikin saya gubrak deh, secara saya ga pernah buat scipt serupa sebelumnya, ga ada bayangan buatnya harus gimana. Ditambah saya juga harus membuat aneka games dan ice breaking yang seseru mungkin, yang ga garing dan bisa menghidupkan suasana. Huaaa... pengen lari dan ngilang deh rasanya. Sempat merayu mak Wiek untuk bantuin bikin, Tapi karena semua sudah sibuk dengan tugas masing-masing, akhirnya saya yang harus usaha sendiri. Dan benarlah kata pepatah, when there is a will, there is a away. Dan yeyyy...saya sukses membuat full script naskah MC itu dengan hanya bermodalkan selembar rundown.

Oia, satu hal menyenangkan lagi, saya ditugaskan membaca profil para finalis dan dewan juri sebelum detik-detik pengumuman, karenanya sayapun diwajibkan makpan membuat resume data dan menjelajah satu persatu blog para juri dan finalis Srikandi Blogger.Akhirnya karena itu, saya jadi kenal deh semua finalis hebat dari profil yang tertera, baca-baca prestasinya, bongkar-bongkar fb dan fotonya. Dengan ini saya mohon maaf yaa para emak hebat 12 Srikandi Blogger, karena saya sudah ubek-ubek datanya tanpa permisi, semoga dimaafkeuun *sungkem*

Beruntung saya dipasangkan dengan MC yang lumayan keren juga kreatif. Dia cowok cool bernama Arie Goiq. Gayanya yang asik dan lumayan ngocol, mampu mengimbangi saya yang aslinya kalem ini (eitsss...dilarang protes :p) Dari Arie, saya belajar kilat mengenai sedikit hal ihwal ngemsi. Ya..maklumlah saya MC dadakan. Saya baru berkenalan dan kontak beliau via bbm hanya 5 hari jelang event. Dalam waktu sesingkat itulah saya beradaptasi dengan solmet baru saya ini. Dan kita benar-benar baru bisa bertemu muka ketika Gladi Resik (GR) sebelum acara. Di GR itulah kami berlatih bersama. Awalnya kaku tentu saja. Mati-matian kami menyesuaikan diri agar chit chatnya klik dan nyambung.

Akhirnya tibalah juga tanggal bersejarah itu. 28 April. Sebelum tampil, saya diwajibkan berdandan di ruang rias. Nah...di bagian ini ceritapun tak kurang serunya.Tata rias para pengisi acara disponsori oleh Wardah. Wajah sayapun di sulap sedemikian rupa hingga banyak orang tak mengenali saya, termasuk Faiz, anak bungsu saya yang datang menyusul bersama abinya. Faiz bengong dan hendak lari saat saya dekati, dengan muka heran dan takut dia pandangi wajah saya, dan satu-satunya point of viewnya adalah memandang bulu mata saya. Hadeeeuuuhh naaak...ini Ummi lhoo, bukan miss Piggy, hahahaha...desperate banget saya liat ekspresinya. Meski begitu, walau riasan wajah saya terasa too heavy buat saya yang nyaris ga pernah dandan, terlebih dengan gandulan bulu mata anti badai ala syahrini, saya berusaha stay cool menikmatinya. Semua demi KEB tercinta, gapapalah rempong-rempong dikit :)

Inilah tampilan saya before dan after dengan solmet saya mas Arie Goiq

Saya dan Ari saat GR

Saya dan Arie usai di make over oleh Wardah


Dan akhirnya anda semualah yang bisa menilai bagaimana hasil jerih payah usaha saya menjadi PD di tengah krisis percaya diri saya yang sesungguhnya akut. Semoga tak mengecewakan dan bisa memenuhi harapan para makpan.

Memandu acara pembukaan Srikandi Blogger  2013  (foto. dok, pak Dian Kelana) 


Satu hal yang saya petik dari event ini, saya belajar banyak dari para emak-emak hebat di jajaran makpan dan makmin. Saya belajar bersabar menahan ego pribadi. Belajar bekerja dalam team dengan banyak bertenggang rasa menghadapi aneka masalah dengan saling menutupi kekurangan team Dengan semangat kebersamaan sebisa mungkin, kami bahu membahu menutup setiap lubang kekurangan itu. Walau tetap saja, tak ada gading yang retak.Tak ada sesuatu di dunia ini yang sempurna.Karena kesempurnaan hanya milikNya. Sepenuhnya tugas kita hanya sampai pada ikhtiar. Perkara hasil, biar Allah saja yang melengkapi.

Akhirnya...ketjup untuk semua makpan, makjur, 10 emak-emak finalis, semua emak-emak di babak penyisihan. Kalian semuanya hebat dan menginspirasi. I love u all. Terimakasih sudah memberi saya kesempatan bergabung di KEB juga dalam kepanitiaan, semoga KEB sukses selalu, dan ke depan program Srikandi Bloggernya bisa berkelanjutan. Aamiinnn YRA.

note: kalo butuh MC, hubungi aku ya maaak...*judulnya udah pede, hihihi...:))

muaaaccchh semuaaaa...Go KEB!!! :*





Senin, 25 Februari 2013

Mengeja Takdir Tuhan Dalam Jejak Langkahmu

Abi dan Faiz ...menikmati subuh di pantai Carnaval, Ancol...
.(dibidik dari camera digital Nikon Coolpix S3000 tanpa edit)

Sekilas foto di atas nampak biasa saja. Dengan tehnik pengambilan yang juga sangat sederhana karena memang saya tak cukup menguasai ilmu fotografi. Walau tak bisa juga saya katakan sebagai hasil karya asal jepret. Karena saya membidik momen ini dengan sepenuh hati, meski tanpa tehnik mumpuni. Foto ini bukan sekedar mengilustrasikan siratan makna humanis ikatan hati seorang ayah dengan anaknya dalam sebuah gandengan tangan. Namun lebih dari itu, behind the scene foto ini, punya berjuta makna yang menjadi titik balik proses hidup saya dan abi menjadi insan yang lebih baik dan pandai bersyukur. Yang menyadarkan kami, bahwa Tuhan Maha Segalanya.

Kala setapak langkah adalah sesuatu yang luar biasa....

Bila berjalan adalah hal mudah bagi tumbuh kembang seorang anak pada umumnya, tidak begitu bagi Faiz, malaikat kecil saya.Untuk bisa melangkah, saya bersama abinya Faiz perlu berjuang keras mewujudkannya.Menghapus semua rasa putus asa yang menjadi kelemahan kami sebagai manusia. Setelah diagnosa epilepsi parsial yang dideritanya, membawa dokter pada sebuah vonis  bahwa Faiz akan lumpuh total di kursi roda sepanjang hidupnya. Vonis itu kami terima di usia Faiz yang bahkan belum genap sebulan. Masih bayi merah. Sungguh...vonis yang  saya rasakan pahit yang membuat dunia saya runtuh saat itu.Saya terpuruk.Mencoba mengeja takdir Tuhan dalam kesedihan. Ceritanya lengkapnya bisa disimak di sini

Hingga berulang kali menatap foto ini, berulang kali pula hati saya tak henti bertasbih akan kebesaranNya.  Ya, seperti mimpi rasanya bisa melihat si kecil saya melangkah walau tertatih di usianya yang genap 2.5 tahun saat itu. Membuat saya tersungkur dalam derai air mata pada sujud syukur yang panjang.

Dan kini masih ada satu lagi mimpi saya yang belum kunjung menjadi nyata, yakni bisa mendengar Faiz berkata-kata dan memanggil saya Ummi. Semoga keajaiban itu masih akan menghampiri. Walau entah kapan itu...

Kupersembahkan catatan kecil ini untuk Ibu Fauzan, Mamanya Olive, Papanya Cintya-Agas

Semoga bisa menambah rasa syukur ^^

Rectoverso, Hadirkan Rangkaian Kisah Cinta Tak Terucap

Ping! Sinyal getar sekaligus tanda merah berkedip-kedip pada layar BB saya, tanda sebuah pesan masuk menyapa.
"Eh, ada undangan nobar nih tanggal 15 Februari di XXI Plaza Senayan, kamu mau ikutan ga?" begitu bunyi pesan bbm seorang sahabat saya. Entah kenapa, sayapun langsung menjawab pesannya dengan antusias sambil bertanya,
"eh filmya Rectoverso bukan?" saya membalasnya.
Seketika dijawabnya,"Iyaa..". 


Wowww....rasanya saya mau koprol kegirangan mendengar infonya. Hmm...sungguh kebetulan yang menyenangkan. Tau ga kenapa? Karena saya memang niat banget mau nonton film ini saat peluncuran hari pertamanya tanggal 14 Februari 2013. Jauh-jauh hari review film ini sudah saya baca, hingga saya pantengi jadwal tayangnya. Itu karena saya sangat suka dengan karya-karya novelis Dewi Lestari. Buat saya, karya seorang Dee selalu asik untuk dinikmati. Jadi cukup membuat saya penasaran sekeren apa kira-kira karya novelnya yang difilmkan kali ini. Lebih dari itu, Rectoverso menjadi begitu istimewa bagi saya, karena ada cerita mengenai kisah seorang penyandang autisme, yang ternyata sukses membuat saya haru biru menyaksikannya. Melihat adegan abang yang autis dan bundanya yang penyabar itu, saya seperti melihat cermin diri saya dan si bungsu, yang adalah juga seorang penyandang autisme. Hikss...jilbab saya benar-benar basah oleh airmata.:'(

Itulah alasan mengapa saya begitu antusias saat para  blogger diundang untuk nobar bareng para sutradara film plus beberapa aktor dan aktris yang terlibat.

Senangnya lagi, penonton juga diberi kesempatan bertanya kepada sutradara dan pendukung film ini mengenai apa dan bagaimana film Rectoverso ini dibuat. Sayapun beruntung berkesempatan bertanya pada para sutradara film ini mengenai kesan dan kendala apa yang mereka alami dalam memproduksi film yang terdiri dari 5 cerita dan 5 sutradara berbeda ini. Pertanyaaan ini seakan menuntaskan rasa penasaran saya akan bagaimana karya yang diangkat dari novel Dee Lestari ini diangkat ke layar lebar. Apalagi ini merupakan debut perdana bagi kelima sutradara srikandi yang kebetulan kelima-limanya aktris yang memang sudah dikenal masyarakat. Mereka adalah, Marcella Zalianty menggarap Malaikat Juga Tahu, Happy Salma (Hanya Isyarat), Rachel Maryam (Firasat), Olga Lydia (Curhat buat Sahabat) dan Cathy Sharon (Cicak-cicak di Dinding).

para sutradara Rectoverso yang saya bidik dari kejauhan

Marcella, sebagai salah satu sutradara menjawab pertanyaan saya. Ia mengatakan karena film ini berkisah tentang lima cerita berbeda, hingga ia menganggap peran editor pada produksi film ini sebagai yang paling hebat karena mampu menjahit kisah demi kisah dengan begitu halus, hingga bisa merangkainya menjadi satu jalinan cerita yang apik dan mampu menampilkan benang merah dari 5 kisah berbeda itu, yakni tentang cinta yang tak terucap yang boleh jadi adalah kisah cinta yang sering dilakoni banyak orang.

Dan setelah menyaksikannya sendiri, ternyata Marcella benar, saya sangat suka dangan jalinan kelima kisah lepas ini. Semua didukung oleh pemilihan aktor yang mumpuni, setting tempat yang menarik serta soundtrack yang juga sangat indah. Wuihhh...satu kata aja, Perfect!

Dan untuk film tak ada kritik dari saya. Saya cukup puas menyaksikannya. Sangat menyentuh, hingga saat keluar bioskop, mata saya masih terasa sembab, karena sedihnya masih terbawa dalam ingatan saya.Kalau boleh saya merating, tanpa mengurangi kehebatan para sutradaranya, saya acung jempol pada akting abang yang diperankan Lukman Sardi dalam kisah Malaikat Juga Tahu. Numero Uno pokoknya!

Over all acara ini berlangsung menyenangkan. Hanya sedikit kritik, acara yang semula dijadwalkan dimulai  jam 7 malam, mulur cukup lama, hingga membuat kami para undangannya cukup jenuh menunggu. Dan sayangnya tak ada kesempatan untuk sekedar wawancara atau berfoto bersama sutradara dan pemain film ini, karena waktu yang sangat terbatas.Tapi saya sudah cukup senang, saat resensi saya tentang film ini terpilih masuk harian Kompas cetak edisi Rabu, 20 Februari 2013.

Resensi saya yang masuk kompas cetak edisi Rabu., 2 Feb 2013


Berfoto di depan banner Nobar Rectoverso Movie Mania 


Terimakasih saya pada mas Karel untuk undangannya :)







Senin, 07 Januari 2013

Count Down, Film Slasher Menegangkan Sarat Pesan Moral

http://www.blitzmegaplex.com/en/index.php


Pekan lalu, tepatnya sehari menjelang tahun baru, saya berkesempatan ikut nobar di Blitz Megaplex Grand Indonesia, yang di gagas Babeh Helmi bersama teman-teman dari Kompasiana. Ini kali pertama saya menonton film Thailand. Sejujurnya saya tak terlalu suka film-film dari Asia, semisal film Korea yang digilai banyak sahabat-sahabat saya itu. Entah kenapa saya agak-agak alergi sama yang sipit-sipit, hihihi....tapi saat melihat trailer film ini, saya kok tertarik, karena genre filmnya jauh dari melow ala film Korea yang bikin ngantuk :) Film ini bergenre slasher yang sarat adegan-adegan ala psikopat yang menegangkan.

Film berkisah tentang 3 teenager asal Thailand yang kesemuanya adalah room mate di kota New York Amerika. Mereka adalah Jack (Pachara Chirathivat), Pam (Pataraya Kruesuwansiri) dan Bee (Jariporn Junkiet). Ketiganya tumbuh dalam pergaulan bebas yang tak terkontrol. Seks bebas dan narkoba menjadi keseharian mereka, karena mereka jauh dari pengawasan orang tua. 

Kisah ini berawal saat mereka bertiga ingin menghabiskan akhir tahun dengan berpesta ganja.Dan seorang bandar ganja bernama Jesus pun datang mengantar barang pesanan mereka.Disinilah ketegangan demi ketegangan film ini dimulai. Jesus yang awalnya ramah dan menyenangkan serta bercerita banyak hal yang menarik, ternyata seorang psikopat yang lumayan sadis yang akhirnya meneror dan menahan mereka dengan ancaman pembunuhan dalam kamar apartemen mereka. Tak pernah mereka bayangkan kalau akhirnya momen itu adalah momen yang tak mungkin mereka lupakan seumur hidup mereka. 

Adegan penuh kekerasan ala psikopatpun benar-benar mampu membuat saya menahan nafas. Salah satu adegan yang sempat membuat saya memicingkan mata adalah salah Pam dipatahkan satu demi satu jari tangannya, hingga patahannya berbunyi dan jarinya bengkok seketika....hiksss...adegan itu benar-benar sukses membuat saya nyengir menahan ngilu. Itu terjadi saat Jesus meminta mereka menyebut 5 ajaran dasar Budha suci yang hanya bisa diucapkan dengan benar oleh Bee seorang, sementara Jack dan Pam tak sukses mengucapnya. Hingga jadilah jari-jari Pam patah karenanya.Dan Jackpun terkecing-kencing dibuatnya :)

Yang menarik diseling adegan menegangkan, sang sutradara berhasil menghadirkan adegan-adegan kelucuan yang membuat penonton tersenyum. Keluguan dan kepolosan Jack dan Pam, membuat film ini tidak membosankan untuk diikuti  hingga akhir cerita, meski setting film terbatas hanya di sebuah kamar apartemen. Di tengah serigai kengiluan melihat adegan ala psikopat, kita bisa tertawa menyaksikan betapa manusia bisa begitu bodoh ditengah ketakutan.Mungkin itu pula yang akan terjadi, bila kita mengalami hal yang sama. 

Walau penuh adegan kekerasan, film ini sarat pesan moral yang baik bagi siapapun yang menontonnya. Bahwa pada detik-detik terakhir hidup kita, saat kita merasa ada di ujung kematian, tentu yang kita ingat adalah segala gelimang dosa. Bila saja diberi Tuhan kesempatan hidup kedua, akan begitu banyak pesan dan permintaan maaf kita kepada orang-orang terdekat, tak ubahnya pengakuan dosa.Anda akan lihat bagaimana kemudian ketiga remaja ini menuturkan segala kealpaan selama hidup mereka, dan itu semua terucap dibawah tekanan dan todongan senjata seorang psikopat. 

Lalu bagaimanakah mereka mengakhiri semuanya? Siapa sebenarnya Jesus? Mengapa ia meneror dan berniat membunuh ketiganya? Penasaran? Anda bisa saksikan filmnya yang akan tayang serentak pada tanggal 9 Januari 2013 di bioskop kesayangan anda. 

Film ini sangat recomended untuk anda tonton. Tak hanya seru tapi juga sangat inspiratif. Pesan moral yang tersirat, sangat bisa menjadi tonggak resolusi untuk anda memulai hidup dengan lebih baik, mumpung masih di beri Tuhan kesempatan hidup.

Selamat menonton :)


*special thanks to Babeh Helmi untuk undangannya ;)